Manusia Unggulan
Mei 24, 2009
Di antara konstelasi makhluk alam semesta, manusialah yang memiliki anasir paling lengkap dan paripurna, fisik maupun metafisik. Kalau bangsa syeitan ataupun malaikat diciptakan dari satu unsur saja (api dan cahaya), maka yang melekat pada tubuh manusia bersumber dari semua unsur. Bagi yang mampu melestarikan cahaya di dirinya, ia akan lebih mulia dari para malaikat. Namun sebaliknya, bagi yang terlena, ia sedang memercikkan api di dirinya hingga –pada level tertentu– ia lebih bejat dari jamaah syeitan dan tak lebih mulia dari kumpulan binatang.
Manusia adalah makhluk unggulan, dan diam-diam iblis pun sebenarnya mengagumi kesempurnaan dan keunggulan manusia. Karena itu pulalah ia berusaha untuk menjerumuskan manusia. Dan sungguh, iblis hanya ingin kita masuk neraka, bukan untuk menemaninya, karena ia berasal dari unsur api yang menjadi wajah neraka. Dan ia tidak butuh kita sebagai teman, ia hanya ingin melihat manusia selaku rival beratnya berada di tempat yang hina.
Dan di antara seluruh bangsa-bangsa di dunia, Indonesialah sebenarnya bangsa yang paling istimewa. Tengoklah keindahan dan kenyamanan alamnya, juga dua musim yang meliputinya dengan teratur dan tidaklah ribet. Serta ukuran siang dan malam yang melintasinya dengan sangat seimbang, masing-masing 12 jam.
Indonesia juga istimewa karena ia memiliki pengetahuan yang banyak tentang banyak hal. Bayangkan, dalam konteks budaya saja misalnya, bangsa kita adalah golongan manusia yang selalu sanggup untuk mengikuti budaya bangsa-bangsa lain. Coba, pakaian bangsa mana yang tak dimiliki oleh masyarakat Indonesia? Dari yang tertutup rapat ala orang Arab hingga yang terbuka lebar seperti orang eropa kita punya. Terus, kalau kita mencari orang Arab yang pinter nyanyi lagu sunda semisal es lilin, pasti sulit, sesulit kita mencari orang Amerika yang bisa nembang lagu Jawa atau orang India yang bisa dangdutan. Tapi lihatlah bangsa ini, tembang bangsa mana yang kita tidak sanggup untuk menirunya, dari yang jadul atawa klasik hingga yang paling update, meskipun terkadang tak mengerti maksudnya apa.
Bangsa kita juga adalah bangsa yang paling sopan. Coba misalnya, mana ada bangsa asing yang tersia-siakan di bumi kita, meskipun seseorang di negaranya hanya rakyat biasa, tapi ketika di Indonesia, ia bisa jadi artis ataupun pengusaha secara instan. Atau bangsa asing lainnya yang jelas-jelas mengeruk kekayaan alam kita, “menjajah” bumi kita, dari tambang emas, batu bara, minyak, hingga perkebunan karet, sawit dll, namun bangsa kita tidak pernah ngamuk, malah memanjakan mereka dengan fasilitas-fasilitas yang serba wah.
Israel dan Arab mungkin bangga karena menjadi keturunan bangsa pilihan dari nenek moyangnya, sayyidina Ibrahim as. Lalu kita orang Indonesia ini kira-kira keturunan siapa? Apakah nama Java ada kaitannya dengan Jew atau Jewish? Jangan-jangan kita pun masih keturunan Nabi Ibrahim as. melalui darah saudara kita suku Jawa? Atau barangkali seluruh suku yang ada di Indonesia aslinya Jawa lalu terpecah menjadi suku-suku yang banyak? Lalu sebetulnya kita ini adalah keturunan Adam as.
Jadi sebenarnya manusia adalah makhluk unggulan. Dan bangsa yang paling unggul di kalangan manusia adalah bangsa Indonesia. Unggul dalam berbagai hal, hingga juga paling diunggulkan untuk menjadi bahan tertawaan seluruh makhluk alam semesta, baik yang hadir maupun yang ghaib. Quo Vadis Indonesia? (Meski saya tak rela kau ditertawakan…)
Nyanyian Kebesaran
Mei 13, 2009
Sering seseorang melihat atau mendengar sesuatu, namun sebenarnya ia tidak melakukan keduanya karena hatinya tidak ingin. Banyak pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan tanpa melibatkan peranan hati, hingga kemudian kita tidak menikmati, bahkan untuk sebuah pekerjaan yang paling mudah seperti bermimpi. Padahal, dari lidah orang bijak kita diinformasikan: “keberhasilan berawal dari sebuah mimpi”. Maka, kaidah pendidikan moralnya adalah: “kalau ingin menjadi orang besar, maka impikanlah cita-cita yang besar”, mungkin penerapannya seperti itu.
Saya jadi teringat dengan cita-cita seorang teman yang ingin menjadi orang “besar”. Baginya, menjadi besar tidak harus melewati faktor jabatan atau kekayaan, tapi melalui karya-karya. Apapun karya yang kita hasilkan, harus menuai pesan-pesan kebaikan dan manfaat bagi orang lain. Dan kalau kita mampu mengimplementasikan ini, maka saat itu sesungguhnya kita sedang berproses menjadi orang yang “besar”, katanya. (Dan saat ini, saya sudah melihat karya-karya dia baik yang tertulis ataupun tidak).
Lain hal dari itu, ada juga yang mengatakan bahwa untuk menjadikan sebuah karya itu memiliki nilai besar ataupun kecil, haruslah dilihat dari tujuannya. Kalau tujuannya jelas, maka sekecil apapun karya seseorang tetap akan memiliki nilai dan makna. Karenanya, kaidah pendidikan moral selanjutnya adalah: “tentukanlah tujuan yang jelas dalam karya hidupmu”.
Dalam konteks yang berbeda, Indonesia negeriku tercinta ini adalah negara yang sangat besar. Saking besarnya, ia tidak sanggup untuk berdiri sendiri tanpa harus bantuan topang dari negara lain. Kekayaan alamnya yang besar juga tidak sanggup ia kelola sendiri. Namun bagiku ia tetaplah besar, karena hingga berkali-kali dicekik oleh negara lainpun ia tetap bertahan hidup.
Berbicara masalah ukuran ataupun standar seperti ini, saya pribadi sebetulnya tidak terlalu suka dengan idiom-idiomnya seperti besar-kecil, kaya-miskin, pintar-bodoh, mulia-hina, dll. (Karena saya sadar diri, bahwa saya masih terlalu kotor untuk bersentuhan dengan dimensi dan frekwensi itu). Sebab “besar” menurut kita misalnya, tidaklah sebesar kenyataannya.
Masalah yang besar, sebenarnya tidak akan menjadi besar kalau hati kita tidak sempit. Namun sebaliknya, masalah yang kecil akan terasa besar kalau kita tidak berbesar hati. Maka, kaidah pendidikan moral selanjutnya adalah: ‘don’t say: “wahai Tuhan, masalahku sangat besar”, but say: “wahai masalah, Tuhanku amatlah Maha Besar”.
Dan saya berusaha berbesar hati untuk tetap mencintai Indonesia, apapun nanti bentuknya. Bukan hanya karena tak ada pilihan yang lain, tapi semata-mata karena saya tidak bisa berbahasa lain selain bahasa Indonesia dan tidak memiliki mata uang negara lain selain mata uang Indonesia. (Dan saya tidak perlu teriak-teriak: Hidup Indonesia!)

Rumah itu (benar-benar) Sakit
Mei 3, 2009
Setahun sudah peristiwa itu. Mimpi yang masih menyisakan banyak tanya. Selama dua bulan adik sepupu saya terkapar menjadi pesakitan di sebuah rumah sakit. Rumah sakit tersebut juga merupakan lahan “eksperimen” bagi sebuah akademi di negeri ini. Dan kami para penunggu, saat itu, memiliki lokasi sendiri di sudut blok bangunan. Wadah yang menjadi perekat di saat-saat penat. Arena cengkrama di tengah-tengah kepanikan. Tempat kami kembali setelah seharian disibukkan dengan agenda penebusan obat dengan antrian yang begitu panjang (sebuah rutinitas yang diperuntukkan bagi mereka yang memiliki label “miskin”). Entahlah, tiba-tiba suasana menuntun kami untuk saling merajut ukhuwah kemanusiaan. Padahal perkenalan kami hanya sebatas nama, dan tidak sampai saling menunjukkan KTP segala.
Suasana menjadi sangat kontras ketika saya berada di belakang blok. Tepatnya di kantin mahasiswa kedokteran. Alih-alih mendapati raut kekhawatiran, saya justeru menemukan keceriaan dan kebahagiaan pada wajah calon-calon dokter tersebut. Nyaris tidak ada ekspresi sedih ataupun lara. Bahkan gelak tawa mereka begitu membahana seumpama tiupan terompet kemenangan yang sedang dirayakan sekaligus juga membisingkan. Lagipula saya tidak punya alasan yang tepat untuk mencari-cari kesedihan pada mereka yang terlanjur berada dan kaya. Mungkin ini hanya ketidakmampuan saya melihat kondisi adik sepupu saya yang sudah tiga kali dieksekusi (operasi/bedah), namun tidak menghasilkan apa-apa kecuali bertambah sekarat. Dalam sehari, paman saya harus merogoh kocek sekitar 2-3 juta rupiah belum termasuk biaya operasi. Padahal itu sudah menggunakan label “miskin” (ya, hakekatnya semua manusia itu miskin sih di mata Sang Maha Kaya). Sementara kami sudah berada hampir dua bulan di sana.
Tidak lama, saya mendengar bahwa pejabat bangsa penanganan kesehatan mendapat anugerah berupa penghargaan Internasional karena keberaniannya menginterupsi kebijakan Amerika. Sebagai bangsa Indonesia saya turut bangga akan prestasi tersebut. Namun di saat yang sama saya juga kecewa karena administrasi salah satu rumah sakit Indonesia sangatlah kacau dan tidak berprikemanusiaan. Kacau, karena saya sering melihat praktik suap (rata-rata agar cepat dalam antrian, terutama di sub legalitas “cap” miskin), preman berkedok petugas yang menguasai fasilitas umum, calo-calo, pencurian, penggelapan obat tebusan oleh para perawat, hingga calon-calon dokter yang kurang –kalau tidak ingin dikatakan ‘tidak’– professional (kelihatan kok, banyak yang gugup ketika meraba-raba, apalagi jika diraba). Dan tidak berprikemanusiaan, karena biaya pengobatan yang selangit. Bayangkan, harga obat di apotik sekitar RS (yang sudah bekerjasama dengan pihak RS) 7-10 kali lipat dari harga asli yang biasanya didapatkan di toko grosir obat. Belum lagi akan kesalahan-kesalahan (entah itu malpraktik atau bukan sih) dalam penanganan pasien seperti operasi atau bedah (dalam konteks adik sepupu saya saja terjadi tiga kali dengan keluhan awal: “tidak bisa kentut”). Di ruangan tempat kami menunggu (ruang anak) saat itu, hanya 20 persen yang bisa pulang dengan selamat, selebihnya meninggal dunia, termasuk adik sepupu saya.
Banyak hal yang bisa dipetik sebagai pelajaran kemudian, terutama sikap paman saya yang tidak kenal lelah dan putus asa. Juga tentang manajemen sebuah rumah sakit dengan kelebihan dan kekurangannya. Dan mengenai adik saya, kami sudah sangat merelakan kepergiannya. Sebab ia termasuk yang dijanjikan Rasul mulia dalam hadis “rufi’al qalam…(tidak mendapat “catatan” apa-apa) karena ia belum mencapai baligh. Namun yang menjadi catatan saya adalah penyakit yang ia derita, ya itu tadi: “tidak bisa kentut”. Tidakkah kalau demikian harga kentut begitu mahal, sementara kita sering menggerutu, terutama setelah berwudhu, “kentut lagi, kentut lagi…”. Maka, kalau mau kentut, kentut saja. Sebab, lebih baik “Pendidikan Moral” mendapat nilai 3, tapi “Pelajaran Kesehatan Jasmani” mendapat nilai 9.
Au ah…
(Tiba-tiba saya terbangun, ough! untungnya hanya mimpi…)
Isteri Bukan Jajalan
April 30, 2009
Karena alasan mengikut (mitos) nenek moyang, terkadang seseorang (tiba-tiba) menjadi penakut, bahkan hanya untuk sekedar basa-basi.
Sepanjang hari kemarin saya digiring oleh urusan yang berbau pelaminan dan “ranjang”. Sebenarnya saya hanya jadi korban. Mungkin bahasa yang tepat untuk mengekspresikan kondisi saya: “lo yang mo kawin, kok jadi gue yang repot”.
Sebuah alasan yang sangat (terpaksa) dimaklumi, bahwa calon pengantin dilarang keluar rumah. Maka untuk urusan persiapan acara perkawinan, semua-muanya harus ditangani oleh “yang lain”. Mitos ini, entah dari mana asalnya, sangat ampuh untuk membuat orang –sepemberani– teman saya menjadi ciut nyali. Bukan takut mati, tapi takut tidak sempat membunuh rasa penasarannya; nikmatnya kawin –barangkali–, karena 3 hari lagi adalah hari pernikahan sekaligus “pemajangan” dirinya. Namun karena sangat terpaksa, aturan tersebut akhirnya ia langgar juga.
Karena hujan, kamipun mampir di kontrakan salah seorang teman yang menjadi “kurir” undangan. Banyak pembicaraan yang kami tautkan kemudian, dan semua bertema: pelaminan dan (maaf) “ranjang”. Pelaminan itu hanya sebatas prolog. Saya memberi masukan seputar persiapan fisik saja. Dan karena ini adat Betawi, maka lebih melelahkan ketimbang adat (saya) Banjar. Di Banjar, acara resepsi rata-rata setengah hari. Kalau Betawi, acara dari pagi hingga malam dan biasanya tamu malamnya adalah (kebanyakan) para pemuda. Ketika pembicaraan sudah mengarah ke “ranjang”, maka raut muka kami –serentak– menjadi serius, bahkan tegang. Lebih-lebih ketika ada salah satu teman saya –yang sudah beranak-istri– ikutan nimbrung dan memberikan statemennya.
“Bro, kalo ente kawin cuman buat ngelampiasin hawa napsu doang, ntar pas isteri hamil, mendingan lahirannya disesar ajah, soalnya ane udah dua kali ngalamin kegagalan. Pas yang ketiga ini, disesar alhamdulillah selamat.”
“Emang sebabnya cuman itu, ente kawin buat jajal-jajalan doang?” teman saya (calon pengantin) nanya.
“Iya, abis ane gak tau yang laen-laennya” jawabnya polos.
Ia mengaku bahwa pernikahannya hanya untuk melampiaskan hawa nafsu semata. Kalaupun ada unsur cinta, porsinya tak seberat yang pertama. Bahkan di saat “berhubungan”, dia sering merasa kesulitan untuk mengingat –apatah lagi– menyebut nama Allah. Wah wah wah…aje gile tuh orang. Masa sih se”lupa” itu.
Saya langsung ingat dengan pengalaman sebelum nikah. Ada dua orang kakak ipar yang memprovokasi saya untuk prepare, terutama masalah “ranjang”. Kakak ipar pertama, langsung menyodorkan beberapa kitab, semuanya bertemakan Adab al-Jima’. Saya langsung melahapnya, dan yang saya jadikan referensi –kemudian– adalah kitab “Qurratul ‘Uyun” syarah nazham Ibnu Yamun karya Muhammad at-Tihami al-Madani. Berbeda dari itu, kakak ipar kedua malah menyuruh saya mencatati apa-apa yang menjadi tradisi orang (biasanya tuan guru) Bakumpai. Nikah batin dulu, katanya.
Walhasil, jadilah isteri saya saat ini bunting 7 bulan
. Dan semoga tidak perlu sesar untuk membuat Allay junior terlahir ke muka bumi.
أخرج أيـّها المولود بقدرة ملك المعبود، ولا حول ولا قوّة إلاّ بالله العليّ العظيم
اللهمّ بارك لي في أهلي وبارك لأهلي فيّ اللهمّ ارزقني منهم وارزقهم مني وحبّب بعضنا
Amin, Ya Rabb…
Tidur Yang Tertunda…
April 26, 2009
Ini adalah malam kesekian kalinya saya susah memejamkan mata. Ada beberapa faktor penyebab yang menjadi penghambat aktivitas malam saya tersebut. Tepatnya ada beban fisik dan psikis yang sedang saya dera. Secara fisik, jasad saya sedang kelelahan dan juga kesakitan. Lelah karena setelah sekian lama tidak olahraga ia saya pakai untuk bermain futsal. Dan resiko dari jasad yang cukup lama absen dari olahraga lalu tiba-tiba digunakan untuk olahraga yang cukup menguras seperti futsal, maka dapat dipastikan ia akan mudah mengalami shock lantas sakit di setiap lini persendian. Penyebab lain adalah kecerobohan saya sendiri ketika berada dalam kamar mandi. Karena buru-buru ingin jadi makmum (takut masbuq) shalat isya beberapa malam yang lalu, saya jatuh terpeleset dan kedua tangan refleks beraksi menjadi penyangga tubuh gempal saya. Walhasil, kedua bahu saya terasa nyeri, hingga menoleh saja pasti mengundang rasa sakit pada leher. Dan secara psikis, jiwa saya memang lelah akibat regulasi yang saya buat sendiri: beban harus menyelesaikan dunia akademis di tahun ini tidak seiring dengan kenyataan menata hati. Saya masih sering mengingat wajah indah isteri tercinta ketimbang membaca seksama bahan yang hendak diteliti. Belum lagi kalau tidak menemukan ide untuk menulis alias mentok. Saya malah memanjakan mata untuk berselancar di dunia maya.
Itulah dunia yang sedang saya bentuk. Dunia yang asyik saya geluti dan menyisakan lelah jiwa maupun raga. Dan saat-saat seperti ini, bayangan Pak Bieng sangat mengental dalam benak saya. Karena dia adalah satu-satunya tukang urut yang sangat mengerti bagaimana menangani tubuh (perkasa) saya.
Ketika tidur begitu mudah menyapa kita dan kantuk adalah prolognya, kita akan begitu khidmat memasuki dunia selanjutnya. Begitulah kelak, kalau kita tidur selama-lamanya, nikmat dalam diam itupun akan menghinggapi masing-masing kita. Hanya perkaranya adalah, kita percaya dengan siksa kubur atau tidak? Maka kalau tidurmu tak ingin terganggu, persiapkanlah terlebih dahulu…
Sebab ruh itu seperti seorang tamu yang mampir di rumah (tubuh) seseorang. Kalau ia dihormati, dijamu dengan makanan-makanan yang lezat dan dibekali kepergiannya, maka ia akan pergi dengan sopan dan bahkan berpamitan (ngasih tau) terlebih dahulu sebelum pergi. Dan menghormatinya adalah menjaga perasaannya agar ia tidak cemburu dengan jasmani. Memberinya makan adalah dengan amal-amal shalih, dst…
Kalau sudah seperti ini, (terkadang) saya jadi “takut” tidur…
AKU BELUM SIAP!!! hu hu hu…

Aku iri melihatmu lelap say...
Tajammu’ Qum…[1] (Makan bareng yuk…)
Februari 25, 2009
Kebersamaan atau semangat gotong royong sudah lama terkikis kalau konteksnya adalah masyarakat kota. Untuk urusan yang berujung duit atau kontribusi tenaga, ini lebih lagi. Dan perlahan-lahan tradisi “lakum dinukum waliyadin” ini sudah menggerogoti tatanan masyarakat yang ada di desa. Mending kalau makna din di atas dipahami sebagai agama secara nilai-nilai ataupun institusi. Lha, kalau dipahami sebagai keperluan atau pekerjaan. Lana a’maluna walakum a’malukum. Urusan kami, kamu gak usah peduli, kerjaan kamu ya, urus sendiri. Ini tentu akan merusak kepentingan siapa saja, sebab kebersamaan hanya berlaku bagi mereka yang punya kepentingan, termasuk para caleg (saat ini) dalam mobilisasi massa. Lebih-lebih kalau yang kampanye adalah caleg yang sekaligus juga calon mertua terhormat. Sebab kita terlanjur hafal, bahwa sila yang ketiga adalah Persatuan Indonesia, meskipun realitanya slalu terjadi seteru dan tawuran di berbagai level (baik yang diselenggarakan terencana, maupun yang spontan). Sementara calon mertua, obrolan saat makan malam barengpun slalu bagaimana caranya agar nanti ketika korupsi tidak kena tilang KPK. Soalnya, para caleg ketiban aturan yang mereka buat sendiri; setor ke partai, mobil mewah, rumah asri, HP terkini, “jajanan matang”, “setengah-matang” atau “mentah”, pelesiran ke luar kota dan negeri serta beberapa agenda ngibulin masyarakat dan negara lainnya, yang menjadi stimulus agenda korupsi atau boleh diperhalus: memanfaatkan hasil proyek basah.
Saya sempat heran ketika menyaksikan sebuah kebersamaan yang sedang saya curigai eksistensinya di Indonesia. Dan ini terjadi di kampung nenek mertua indah saya. Anak dari keponakan bapak mertua saya mengadakan walimahan atau bakawinan. Alur kebersamaan itu diawali dengan tradisi mangayu[2], yang biasanya diadakan satu bulan sebelum hari H. Kemudian ketika duduk aruh[3], warga ramai berhimpun harta dan tenaga dari investasi ayam atau itik[4] hingga urunan beras yang baru dipabrik. Dari pelimpahan uang arisan hingga kejar tayang memantat (produksi karet manual). Dari mangawah[5] sampai mencabuti bulu ayam maupun itik. Dari manyiangi ikan patin yang nyaris tak ada sisiknya hingga manggangan paliat[6] yang sangat riskan kalau dikonsumsi penganut sakit maag rada-rada kronis ke atas. Ada juga yang sibuk memancang bambu untuk tenda yang sayangnya warnanya tidak biru seperti ratapan Dessy Ratnasari, tapi coklat. Warga benar-benar bekerjasama dan sama-sama bekerja. Dan ini diikuti seluruhnya tanpa audisi apalagi takut tereleminasi. Sebab semua berlandaskan keikhlasan yang luar biasa. Sampai-sampai saya sendiri tidak kebagian bidang yang harus saya tanggungjawabi. Semua terhandle sangat professional dengan hasil yang memuaskan. Adapun setelah itu ternyata ada suguhan makan siang, itu sekedar penerapan salah satu metode kuratif “menambah darah” sewajarnya. Dan semua terjawab dengan gumulan maupun gerombolan keringat yang menggelantung dari wajah sampai leher, karena nasi kami ditemani oleh gangan humbut[7], iwak wadi[8], manday[9] dan sambal khas Kelua. Oiya, keringat kami ini sebelumnya juga sudah tumpah-ruah saat bekerja. Ini pengakuan yang semoga tidak mengada-ngada, sebab orang Indonesia terkenal berkeringat hanya ketika makan saja. Sementara orang Eropa sana, senantiasa berkeringat ketika bekerja, katanya.
Estetika dari aura kebersamaan semacam ini ternyata masih berlaku di beberapa daerah perkampungan di banua kita. Sepertinya mereka sudah tidak peduli dengan masalah yang diatasnamakan Indonesia, sebab mereka tidak pernah merasa hidup di Indonesia, mereka hanya merasa hidup di Kalimantan Selatan yang rukun, damai dan sejahtera, meski dengan mata terbuka juga sadar akan nasib tanah titipan Tuhan di sekitar mereka sudah rusak akibat regulasi nasional yang mengatasnamakan Indonesia. Dan secara tidak sadar saya melihat dari hulu sungai hingga ke hilir banyak bendera-bendera partai di pajang di halaman rumah mereka. Tepat dugaan saya, ternyata mereka lebih mencintai partai-partainya ketimbang Indonesia, karena tak satupun saya dapati bendera merah putih berkibar di sana. Kendatipun demikian, mereka ternyata tetap bisa disatukan dalam frame budaya kelokalan. Semoga di pemilu 2009, mereka, kami, dia, aku dan anda kadang-kala bisa menjelma menjadi kita.
[1] Istilah ini saya hayati dan amalkan tatkala masih nyantri di Gontor. Sebenarnya secara bahasa artinya ngumpul-ngumpul, atau berhimpun, tapi karena Gontor punya bahasa Arab sendiri, maka maksudnya: ngumpul bareng dalam rangka makan-makan, biasanya pakai kertas atau Koran bekas sebagai alasnya. Dan dalam konteks Gontor, ini sebenarnya pelanggaran.
[2] Mangayu ini adalah prosesi mencari kayu untuk bahan bakar ketika acara perkawinan berlangsung. Lazimnya, kayu yang dicari adalah kayu pohon karet yang sudah kering atau yang sudah tidak produktif lagi dalam menghasilkan getah. Ini dilakukan oleh warga secara bersama-sama ke hutan sekitar kampung. Ini juga merupakan simbol bahwa sekitar 1 bulan lagi sohibul hajat akan mengadakan perkawinan putrinya.
[3] Berhimpunnya warga sekitar beberapa hari menjelang hari H. Ada yang 2 hari, 3 hari ataupun seminggu sebelum hari H. Aktivitasnya sekitar persiapan untuk seluruh acara perkawinan.
[4] Ada sebagian warga yang mampu memberi beberapa ekor ayam ataupun itik, misalnya 10 ekor, dan ini menjadi investasi bagi pemberi. Ada semacam kesepakatan tidak tertulis, kelak apabila si pemberi mengadakan hajatan yang sama, ia akan mendapatkan ayam atau itik sejumlah yang pernah ia sumbangkan.
[5] Memasak nasi dengan kapasitas banyak dan ini memerlukan keahlian, biasanya jam terbang merupakan faktor pendukung.
[6] Masakan khas bangsa Kelua yang bahan dasarnya didominasi oleh santan (air kelapa yang sudah diparut), berikut bawang, kemiri, kunyit dkk. Selain ikan patin, ikan baung ataupun udang merupakan lauk utama dalam masakan ini.
[7] Masakan khas Banjar yang bahan utamanya adalah humbut (isi batang bagian atas) nyiur.
[8] Ikan yang difregmentasi dengan garam.
[9] Fregmentasi kulit cempedak.