Tajammu’ Qum…[1] (Makan bareng yuk…)
Februari 25, 2009
Kebersamaan atau semangat gotong royong sudah lama terkikis kalau konteksnya adalah masyarakat kota. Untuk urusan yang berujung duit atau kontribusi tenaga, ini lebih lagi. Dan perlahan-lahan tradisi “lakum dinukum waliyadin” ini sudah menggerogoti tatanan masyarakat yang ada di desa. Mending kalau makna din di atas dipahami sebagai agama secara nilai-nilai ataupun institusi. Lha, kalau dipahami sebagai keperluan atau pekerjaan. Lana a’maluna walakum a’malukum. Urusan kami, kamu gak usah peduli, kerjaan kamu ya, urus sendiri. Ini tentu akan merusak kepentingan siapa saja, sebab kebersamaan hanya berlaku bagi mereka yang punya kepentingan, termasuk para caleg (saat ini) dalam mobilisasi massa. Lebih-lebih kalau yang kampanye adalah caleg yang sekaligus juga calon mertua terhormat. Sebab kita terlanjur hafal, bahwa sila yang ketiga adalah Persatuan Indonesia, meskipun realitanya slalu terjadi seteru dan tawuran di berbagai level (baik yang diselenggarakan terencana, maupun yang spontan). Sementara calon mertua, obrolan saat makan malam barengpun slalu bagaimana caranya agar nanti ketika korupsi tidak kena tilang KPK. Soalnya, para caleg ketiban aturan yang mereka buat sendiri; setor ke partai, mobil mewah, rumah asri, HP terkini, “jajanan matang”, “setengah-matang” atau “mentah”, pelesiran ke luar kota dan negeri serta beberapa agenda ngibulin masyarakat dan negara lainnya, yang menjadi stimulus agenda korupsi atau boleh diperhalus: memanfaatkan hasil proyek basah.
Saya sempat heran ketika menyaksikan sebuah kebersamaan yang sedang saya curigai eksistensinya di Indonesia. Dan ini terjadi di kampung nenek mertua indah saya. Anak dari keponakan bapak mertua saya mengadakan walimahan atau bakawinan. Alur kebersamaan itu diawali dengan tradisi mangayu[2], yang biasanya diadakan satu bulan sebelum hari H. Kemudian ketika duduk aruh[3], warga ramai berhimpun harta dan tenaga dari investasi ayam atau itik[4] hingga urunan beras yang baru dipabrik. Dari pelimpahan uang arisan hingga kejar tayang memantat (produksi karet manual). Dari mangawah[5] sampai mencabuti bulu ayam maupun itik. Dari manyiangi ikan patin yang nyaris tak ada sisiknya hingga manggangan paliat[6] yang sangat riskan kalau dikonsumsi penganut sakit maag rada-rada kronis ke atas. Ada juga yang sibuk memancang bambu untuk tenda yang sayangnya warnanya tidak biru seperti ratapan Dessy Ratnasari, tapi coklat. Warga benar-benar bekerjasama dan sama-sama bekerja. Dan ini diikuti seluruhnya tanpa audisi apalagi takut tereleminasi. Sebab semua berlandaskan keikhlasan yang luar biasa. Sampai-sampai saya sendiri tidak kebagian bidang yang harus saya tanggungjawabi. Semua terhandle sangat professional dengan hasil yang memuaskan. Adapun setelah itu ternyata ada suguhan makan siang, itu sekedar penerapan salah satu metode kuratif “menambah darah” sewajarnya. Dan semua terjawab dengan gumulan maupun gerombolan keringat yang menggelantung dari wajah sampai leher, karena nasi kami ditemani oleh gangan humbut[7], iwak wadi[8], manday[9] dan sambal khas Kelua. Oiya, keringat kami ini sebelumnya juga sudah tumpah-ruah saat bekerja. Ini pengakuan yang semoga tidak mengada-ngada, sebab orang Indonesia terkenal berkeringat hanya ketika makan saja. Sementara orang Eropa sana, senantiasa berkeringat ketika bekerja, katanya.
Estetika dari aura kebersamaan semacam ini ternyata masih berlaku di beberapa daerah perkampungan di banua kita. Sepertinya mereka sudah tidak peduli dengan masalah yang diatasnamakan Indonesia, sebab mereka tidak pernah merasa hidup di Indonesia, mereka hanya merasa hidup di Kalimantan Selatan yang rukun, damai dan sejahtera, meski dengan mata terbuka juga sadar akan nasib tanah titipan Tuhan di sekitar mereka sudah rusak akibat regulasi nasional yang mengatasnamakan Indonesia. Dan secara tidak sadar saya melihat dari hulu sungai hingga ke hilir banyak bendera-bendera partai di pajang di halaman rumah mereka. Tepat dugaan saya, ternyata mereka lebih mencintai partai-partainya ketimbang Indonesia, karena tak satupun saya dapati bendera merah putih berkibar di sana. Kendatipun demikian, mereka ternyata tetap bisa disatukan dalam frame budaya kelokalan. Semoga di pemilu 2009, mereka, kami, dia, aku dan anda kadang-kala bisa menjelma menjadi kita.
[1] Istilah ini saya hayati dan amalkan tatkala masih nyantri di Gontor. Sebenarnya secara bahasa artinya ngumpul-ngumpul, atau berhimpun, tapi karena Gontor punya bahasa Arab sendiri, maka maksudnya: ngumpul bareng dalam rangka makan-makan, biasanya pakai kertas atau Koran bekas sebagai alasnya. Dan dalam konteks Gontor, ini sebenarnya pelanggaran.
[2] Mangayu ini adalah prosesi mencari kayu untuk bahan bakar ketika acara perkawinan berlangsung. Lazimnya, kayu yang dicari adalah kayu pohon karet yang sudah kering atau yang sudah tidak produktif lagi dalam menghasilkan getah. Ini dilakukan oleh warga secara bersama-sama ke hutan sekitar kampung. Ini juga merupakan simbol bahwa sekitar 1 bulan lagi sohibul hajat akan mengadakan perkawinan putrinya.
[3] Berhimpunnya warga sekitar beberapa hari menjelang hari H. Ada yang 2 hari, 3 hari ataupun seminggu sebelum hari H. Aktivitasnya sekitar persiapan untuk seluruh acara perkawinan.
[4] Ada sebagian warga yang mampu memberi beberapa ekor ayam ataupun itik, misalnya 10 ekor, dan ini menjadi investasi bagi pemberi. Ada semacam kesepakatan tidak tertulis, kelak apabila si pemberi mengadakan hajatan yang sama, ia akan mendapatkan ayam atau itik sejumlah yang pernah ia sumbangkan.
[5] Memasak nasi dengan kapasitas banyak dan ini memerlukan keahlian, biasanya jam terbang merupakan faktor pendukung.
[6] Masakan khas bangsa Kelua yang bahan dasarnya didominasi oleh santan (air kelapa yang sudah diparut), berikut bawang, kemiri, kunyit dkk. Selain ikan patin, ikan baung ataupun udang merupakan lauk utama dalam masakan ini.
[7] Masakan khas Banjar yang bahan utamanya adalah humbut (isi batang bagian atas) nyiur.
[8] Ikan yang difregmentasi dengan garam.
[9] Fregmentasi kulit cempedak.