6 Juli 2009 / 13 Rajab 1430

Engkau lahir normal pada pukul 7:30 pagi dengan berat 3 kg. Ditangani 2 orang bidan (tua dan muda), dibantu oleh nenek dan ayahmu sendiri. Begitu hebatnya perjuangan mamamu. Meskipun sempat keluar kata menyerah di mulutnya, tapi karena ingat si buah hati, semangatnya tiba-tiba mencuat kembali. Dahsyat memang! Abah hanya bisa bantu menjadi penopang dan pengompor yang berharap engkau lahir dengan selamat. Dan pejuang sejati itu adalah Raihatul Jannah, mamamu.

8 Juli 2009 / 15 Rajab 1430

Engkau disuntik imunisasi. Sempat shock melihat tangan mungilmu ditusuk jarum, lebih-lebih mamamu. Ia bahkan, sempat tidak berani melihat, meskipun akhirnya berani juga.

16 Juli 2009 / 23 Rajab 1430

Engkau ditasmiahi (diberi nama) Reqqa Khuzaema Athira. Reqqa artinya hati yang lembut (pengasih), Khuzaema artinya kreatif dan Athira artinya harum mewangi. Malam itu yang menjadi qari adalah kakekmu Fajaruddin Noor BA dan yang memberikan nama adalah kakekmu H. Suriani. Engkau juga diakikahi dengan seekor kambing jantan yang abah beli di tempat Pak Yakubdin at Tamunti.

10 Agustus 2009 / 19 Sya’ban 1430

Engkau batimbang di posyandu (hilir). Berat badanmu bertambah menjadi 4,2 kg.

21 Agustus 2009 / 30 Sya’ban 1430

Di penghujung Sya’ban engkau berada di hari yang ke 46, dan malam ini engkau sama seperti malam-malam sebelumnya. Engkau sebetulnya tidak begitu rewel. Asal ASI nempel di mulutmu, engkau tidak demo.

Kasihan aku menatap ibumu. Ia begitu perkasa di tengah malam semisal ini, melayanimu yang protes lantaran jatah ASI mu harus dikurangi. Ini bukan korupsi. Serius nak, ini hanya ketidakmampuan memberi subsidi. Maklum, keterbatasan fisik adalah jargon kami di waktu malam.

Mari, di tengah pergulatan intelektual, antara ASI dan kasur ini, kita nikmati lagi sisa-sisa tidur malam yang sempat dan seringkali tertunda.

Abah dan mama sangat sayang padamu nak…

Tapi, kami juga sangat ngantuk…sumpah…!

22 Agustus 2009 / 1 Ramadhan 1430

Engkau ditindiki anting –sementara– kancing kawat. Yang berjihad melubangi telingamu adalah om Zamani (abahnya Lia). Sedangkan nenek dan abahmu hanya melakukan aksi jenius yaitu memegangi erat kepalamu agar tidak terjadi pemberontakan radikal yang bisa mencederai misi kami.

28 Agustus 2009 / 7 Ramadhan 1430

Belum genap dua bulan usiamu. Namun kita bertiga tetap nekad mengunjungi nenekmu di Murung Pudak. Dengan mengendarai sepeda motor supra fit milik om Fahmi, kita bergerilya membelah pagi yang sudah hampir siang. Abah dapat jadwal khutbah jum’at di mesjid Taqwa. Tepat satu jam sebelum jum’atan kita berangkat. Sangat tergesa-gesa, mengingat jarak tempuh Pugaan-Murung Pudak sekitar 45 menit, sementara abah belum mandi. Konsekwensinya, jas hujan ketinggalan, kaos kaki dan sepatumu terlupakan.

Malamnya kita menginap di tempat nenek di Maandal. Besoknya kita kembali ke Pugaan, dengan menyisakan pegal-pegal di tangan mamamu, sungguh, ia begitu kuat nak.

19 Desember 2009 / 1 Muharram 1431

Lama tidak memencet tut laptop mengikat sejarah hidupmu. Bukan ikatan dalam arti memasungmu. Tapi dengan maksud sebagai pengingat dalam perjalanan hidupmu.

Berat badanmu sekarang menjadi 7 kg. Setiap hari engkau kami gendong dan terkadang diarak ke seluruh penjuru rumah nenekmu ini. Bayangkan, abah dan mamamu fitness gratis setiap hari dan engkau sebagai barbelnya tentunya.

Tidurmu sekarang sudah multi posisi. Dan tawamu itu lho…lucu be ge te..pko’nya nggemesin…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.